Sekapur Sirih

Welcome to my Blog!
Saya Mukti Yulianto, seorang penulis, apoteker dan pecinta alam.

When I'm not working, I'm blogging :-)

Follow Me

Subscribeto blog
Follow me onTwitter
Add myFacebook

Pengikut

Copyright


© 2014 by Mukti Yulianto.

Terimakasih atas kunjungannya. Mohon kritikan dan sarannya. Jika ada yang bermanfaat, silahkan dishare.

Senin, 26 November 2012
Tanpa terasa Ujian pertengahan semester telah berlalu
Waktunya para pencari mimpi bergegas kembali tuk berlari
Berlari mengejar sebuah asa akan masa depan
Sepeda, Sepeda motor bahkan dengan kaki pun sebagai alat tranportasi

Cahaya mentari yang indah di pagi hari ini
Seperti ikut menyemarakkan dan menyemangati
Jiwa-jiwa yang rindu kehadiran para tetua ilmu
Absensi yang menghantui pikiran-pikiran semrawut

Semua karena 5 menit atau 10 menit
Kadang 5 menit sebagai musuh para mahasiswa ngaret
5 menit itu menjadi hidup dan mati nya mereka
Telat sedikit saja tak akan dapat absen yang menyebabkan tak dapat ujian

Dengan mengucapkan Bismillah
Ku siap menghadang halang rintang di depan
Dengan kalimat takbir
Ku lantangkan pada dunia bahwa "I'm Ready back to campus"
Minggu, 25 November 2012
Wahai adinda, apa kabar mu???
Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik
Ku abdikan hidupku hanya untuk mu
Untuk kebahagiaanmu semata

Aku tak pernah marah dan kesal karenamu
Meski ananda sering kesal pada ku
kelak adinda akan tahu kenapa ayah marah dan kesal padamu
Kelak adinda akan paham dengan situasi sekarang ini

Ayah berbeda dari pacarmu yang sama-sama mengekangmu
Sering over protektif pada adinda, bahkan sering melarang apa yang akan adina lakukan
Pacar adinda sering memarahi, melarang dan overprotectif kepada adinda karena untuk dirinya sendiri
Sedangkan Ayah seperti itu karena untuk adinda sendiri, 
Untuk masa depan adinda sendiri bukan untuk ayah
Karena ketika adinda telah memahami apa yang ayah lakukan, mungkin ayah telah tiada
Tiada dengan senyum manis karena berhasil menjaga adinda sampai dewasa

Duhai adindaku
Kini usiamu sudah bertambah
Adinda tak nampak lagi seorang gadis remaja
Adinda telah menjadi sesosok perempuan dewasa
Yang matang dan siap menempuh kehidupan fana
Hanya beberapa kalimat yang ingin ayah sampaikan kepada adinda ku sayang
Jadilah sosok bidadari Surga
Jadilah ibu yang mensholehkan putranya 
Agar putramu bisa menjadi pemimpi bangsa sekarat ini!!!
Jumat, 23 November 2012
Pada asalnya hari dan bulan memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah Subhaanahu wa Ta’ala, kecuali yang diistimewakan dari hari dan bulan berdasarkan dalil baik dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dan termasuk bulan yang mulia di antara bulan-bulan yang ada adalah bulan Muharram. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala, artinya, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. at-Taubah: 36)

Dan di dalam hadits yang shahih Rasulullah bersabda, “……….Di adalam satu tahun ada dua belas bulan dan di antaranya terdapat empat bulan yang mulia, tiga di antaranya berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan Rajab yang berada di antara bulan Jumada dan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari, no. 2958 dari Abu Bakrah).

Dari ayat dan hadits di atas telah menunjukkan kemuliaan bulan tersebut di sisi Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan menemaan Muharram merupakan penguat atas keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Dan di antara keutamaan yang terkandung di bulan Muharram adalah sebagai berikut:

1. Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Muharram, khususnya berpuasa pada tanggal 10 Muharram (puasa ‘Asyura).

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah al-Muharram.” (HR. Muslim)

Dan di dalam hadits yang lain beliau juga bersabda, “Puasa ‘Asyura menghapus kesalahan setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas berkata, “Tidaklah aku melihat Rasulullah lebih menjaga puasa pada hari yang diutamakannya dari hari yang lain kecuali hari ini, yaitu ‘Asyura.”(Shahih at-Targhib wa at-Tarhib).

2. Pada hari 'Asyura merupakan hari-hari Allah, yang pada hari itu al-haq mendapatkan kemenangan atas kebatilan. Orang-orang mukmin yang sedikit mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir yang banyak. Pada hari itu pula Allah menyelamatkan Nabi Musa 'alaihis salam dan kaumnya dari kerajaan Fir'aun, sehingga nabi Musa berpuasa sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Ta'ala.Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, dia berkata; "Ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam datang di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari 'Asyura, kemudian beliau bertanya: "Hai apa ini?" mereka menjawab: "Ini adalah hari yang baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka berpuasalah nabi Musa 'alaihis salam". Beliau bersabda: "Aku lebih berhak terhadap musa daripada kalian, kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan -para shahabat- agar berpuasa pada hari itu."(HR. al-Bukhari, no. 1865)

Keuatamaan Berpuasa ‘Asyura

Puasa pada hari 'Asyura sudah dikenal sejak zaman jahiliyah sebelum diutusnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh 'Aisyah, "Sesungguhnya orang-orang jahiliyah dahulu berpuasa pada hari itu."

Al-Qurthubi berkata, "Kemungkinan kaum Quraisy menyandarkan amalan puasa mereka kepada syari'at orang-orang sebelum mereka, seperti syari'at Nabi Ibrahim."

Demikian pula saat di Makkah, sebelum hijrah ke Madinah, beliau Shallallaahu berpuasa pada hari tersebut. Dan ketika beliau hijrah ke Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi merayakannya beliaupun bertanya kepada mereka tentang sebabnya, kemudian mereka menjawab sebagaimana yang tersebut di dalam hadits, "Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka berpuasalah Musa 'alaihis salam."(HR. al-Bukhari, no. 1865)

Oleh karenanya beliau memerintahkan para sahabat untuk menyelisihi mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari, bahwa Nabi bersabda, ".......Berpuasalah kalian pada hari tersebut."(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Diperintahkannya puasa ‘Asyura karena didalamnya terkandung sekian keutamaan, sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam, "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa du bulan Allah al-Muharram." (HR. Muslim, no. 1982)

Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa beliau ditanya tentang puasa di hari 'Asyura, maka beliau menjawab, "Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin." (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Baihaqi dan Abdur Razaq)

Imam an-Nawawiy berkata, “Puasa hari ‘Asyura dapat menghapuskan seluruh dosa-dosa kecil selain dosa-dosa besar dan sebagai kafarrah dosa satu tahun.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, juz. 6)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dihapuskan dosa-dosa dengan thaharah, shalat, puasa di bulan Ramadhan, puasa hari ‘Arafah, dan puasa hari ‘Asyura, semuanya untuk dosa-dosa yang kecil.”(Lihat. Al-Fatawa al-Kubra, juz. 5)

Ibnu Abbas berkata, "Tidak pernah aku melihat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam begitu bersemangat perpuasa di hari yang beliau utamakan dibandingkan hari yang lain kecuali hari ini, yakni hari 'Asyura, dan bulan ini, yakni bulan Ramadhan." (HR. al-Bukhari, no. 1867)

Disukai puasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan Tasu’a (9 Muharram) untuk menyelisi orang-orang Yahudi dan Nashrani.

Ibnu Abbas berkata, “Ketika Rasulullah berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani," maka Rasulullah bersabda, “Maka apabila datang tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari ke sembilan.” Ibnu Abbas berkata, “Tidaklah datang tahun berikutnya sampai Rasulullah wafat.”(HR. Muslim, no. 1916)

Berkaitan dengan puasa 'Asyura secara khusus, maka ada beberapa cara dalam pelaksanaannya, di antaranya:

1. Berpuasa selama tiga hari, 9, 10 dan 11 Muharram.

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas, "Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan sehari setelahnya."

Ibnu Hajar di dalam Fath al-Baari, 4/246 juga mengisyaratkan keutamaan cara ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut adalah Imam asy-Syaukani (Nail al-Authar, 4/245)

Namun maryolitas ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuk lebih hati-hati. Sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni dari pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.

2. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Maryolitas hadits menunjukkan cara seperti ini, sebagaimana yang telah tersampaikan di atas.

3. Berpuasa dua hari, yaitu pada tanggal 9 dan 10 atau 10 dan 11 Muharram.

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas, "Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum atau sehari setelahnya."(Hadits shahih secara mauquf sebagaimana dalam as-Sunan al-Ma'tsurah, asy-Syafi'i, no. 338 dan Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar, 1/218).

Ibnu Rajab berkata, "Dalam sebagian riwayat disebutakan "atau sesudahnya", maka kata "atau" di sini mungkin merupakan keraguan rawi atau memang menunjukkan kebolehan..."(Lihat, Lathaiful Ma'arif, hal. 49)

Ar-Rafi' berkata, "Berdasarkan ini, seandainya tidak berpuasa pada tanggal 9 maka dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 11 Muharram." (Lihat, at-Talhish al-Habir, 2/213)

4. Berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja.

Al-Hafidz berkata, "Puasa 'Asyura mempunyai tiga tingkatan, yang terendah berpuasa sehari saja, tingkatan di atasnya ditambah puasa tanggal 9 dan tingkatan berikutnya ditambah puasa tanggal 9 dan 11 Muharram. Wallahu a'lam."

Khatimah
Semoga kita dapat memuliakan dan mengagungkan bulan Muharram tersebut sebagaimana Allah telah memuliakannya dengan cara mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya, bukan dengan cara-cara yang tidak ada asal-usulnya dari syari’at sama sekali.
Wallahu ‘alamu bish shawab.

Sumber Rujukan: Puasa Sunnah, Hukum dan Keutamaannya, cet. Darul Haq, hal. 41-58; Majalah as-Sunnah,03/V/1421H-2001M dan Buletin an-Nur, edisi 231,
www.alsofwah.com
Selasa, 20 November 2012
Malam berbintang memberikan kedamaian dan Guyuran air menebarkan pesona keindahan yang terangkum dalam sebuah album kenangan penuh kebahagiaan. Kemaren masih teringat jelas bahwa banyak dari mimpi-mimpiku yang bermuara sekitar kolam pemancingan. Dipancing lalu diceburkan kembali. Ya begitulah lingkaran duniaku.Kadang kita tenggelam dalam luatan api yang membara tanpa tahu sumber api itu darimana. Terkadang ketika menyalakan api untuk memasak sayuran motivasi, api itu padam karena kehabisa bahan bakar. Atau bahan bakar nya oplosan semata. Ku cari ke ladang tak bertuan. Ku cari ke laut tak menyaut. Ku cari ke langit tapi berbelit. Hanya seongkoh asa dalam jalan 1 meter. 


Berbicara "semangat". Semangat bisa didapat dari orang terdekat atau kisah seseorang atau sumber kehidupan.. Namun, janganlah mencari semangat karena "embel-embel" ingin dipuji. Karena masa depan mu adalah untuk masa depanmu bukan untuk masa depan orang lain. Jangan bersedih ketika halang rintang acapkali menghadang dan ingin meruntuhkan benteng niatmu menuju sukses. Jangan bersedih ketika musibah menimpamu. Tapi percayalah bahwa semakin kencang kita digoyah, maka semakin kuat kita dalam menakhlukkan dunia ini.

Kini terasa ada bintang yang datang di waktu yang tepat. Mungkin Tuhan menitahkan nya ke dunia ini. Dan ada diantara milyaran manusia yang mampu membuat tanah gersang menjadi hijau. Mengubah tuba menjadi susu. Membuat bunga berbungan dan pepohonan bersemi. Semua nya membuat mimpi-mimpiku semakin nyata. Dan kini ku semakin percaya itu :)

"Mungkin kita berada dalam suatu cuaca yang mendung tapi sadarlah dibalik awan mendung disana ada matahari yang terang menyinari. Namun ketika kita berada pada awan yang cerah itu bukan berarti mendung itu pergi tapi mendung tetap mengawal kita dan kita harus selalu siap dibawah awan yang mendung"

Bahkan seseorang berkata,"Dan ketika mendung menjadi hujan..., yakinlah ada pelangi yang muncul setelah hujan"

Saatnya ku berkata, AKU PASTI BISA !! :D
Senin, 19 November 2012
Malam gelap gulita mendatangi langit dunia fana ini. ketika itu ku berdiri tegak menopang asa pada punggung yang kekar. Pernah ku bercerita pada sang langit, apakah semua peristiwa ini adalah kehendakMu atau kah sebuah ujian? Sempat bulanku bersinar tatkala gulita menerka gundah. Semua tampak bersemi seperti bunga mawar yang bermekaran di pagi hari. Sesosok itu datang diwaktu yang tak terduga. Ku tak tau kapan pasti nya perasaan itu muncul. Bahkan, tak ada sedikitpun niatan untuk bermain rasa. Segalanya seolah datang bak angin yang tertiup atau seperti air yang mengalir dari hulu menuju hilir. Sejenak ku termenung. Akankah ini memang skenario Nya? Entah, apakah 2 manusia itu beradu sinyal yang kadang saling mengirimkan short message lewat hati yang berbicara. Di waktu kesunyian mencekam. Di kala cuaca tak bersahabat. Sinyal itu serasa tetap kuat. Atau hanya perasaan sajalah yang melebih-lebihkan keadaan. Apakah hanya sebuah bus yang transit semata? akankah 2 insan itu memiliki keterikatan? Cinta, apa sejatinya arti cinta itu? bahkan sampai sekarang ku belum tahu cinta sejati itu apa? yang ku tahu adalah cinta sejati kepada Orangtua, Rasul dan RabbNya. Apakah benar Alloh menggariskan setiap manusia berjodoh terhadap manusia lain nya? pepatah mengatakan," laki-laki baik untuk perempuan yang baik". Ada juga yang menyatakan bahwa jodoh itu ada ditangan Tuhan. Tapi sampai kapan ada di tanganNya. Bukan seharusnya kita harus mencari dan berusaha supaya kita tahu apa isi tangan Tuhan itu? Semakin kita memantaskan diri menjadi laki-laki yang baik terutama sholeh tentunta kita akan mendapatkan perempuan yang sholehah pula. Namun, akankah kita akan mendapatkan perempuan yang sholehah itu jika kita tak berusaha mencarinya. Padahal pacaran tidak dibolehkan dalam Islam. Lalu ta'aruf lah yang dilakukan???  Hanya saja belum masih bisa ku pahami. Karena sebuah pernikahan tak sekedar sebagai sunnah melainkan merajut sebuah kehidupan yang baru. Tuhan, malam yang berhujan ini, ku ingin bercerita tentang kisahku ini. Aku sama sekali tak ingin merusak cintaku padaMu. Ku juga tak ingin merusak jiwa kemuslimahan seseorang karena cintaku padanya.  

"Aku titipkan doa yang bisa ku sampaikan padaMu.
 Ku bukanlah seorang yang pantas selagi ku belum pantas untuknya
 Jika memang dia adalah sebaik-baik wanitaMu padaku
Maka pantaskan dia untukku dan pantaskan ku untuknya
Kuatkan dia untuk terus menjaga hati dan iman nya
Jadikan lah dia muslimah yang kelak kan jadi ummi yang sholehah
Ku ingin dia menjadi muslimah yang kuat menghadapi kejamnya dunia
Jagalah hati kami untuk tetap ditanganMu sampai waktu yang tepat ketika Kau membuka tanganMu ya Alloh"